hidangan istimewa kolese mikael
4 komentar

Mikael Mengajar, When The Children Smile


Setelah sekian bulan vakum, akhirnya ada  kesempatan untuk nulis-nulis lagi. Tiga bulan vakum nulis dan tidak di-publish, rasanya agak sebel juga. Karena hal yang membuat vakum itu gara-gara laptop rusak dan harus diperbaiki. Banyak kegiatan yang akhirnya tidak terdokumentasikan dalam bentuk tulisan. Mulai dari libur Natal di Madura (tepatnya di daerah warm river alias Kalianget, yg memakan waktu perjalanan 14 jam dari Solo, kesel tenan…), rafting alias arung jeram bersama temen-temen panitia PPM (Piala Persahabatan Mikael) di Sungai Elo Magelang, Erupsi Gunung Kelud yang dashyat di hari Valentine, sampai-sampai derah Jawa Barat yag jaraknya ratusan kilometer pun terkena dampaknya,Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) untuk pengurus OSIS yang baru, dan banyak lagi kisah-kisah lain yang ndak sempat terdokumentasikan dalam tulisan dan di-publish, untuk sekedar dibagikan sebagai bacaan ringan. 

Kali ini tulisan saya masih ndak jauh-jauh dari dunia pendidikan, tepatnya yang baru dialami siswa-siswa kelas XI dari tanggal 6-9 Maret. Berangkat dari sebuah keprihatinan, dan berakhir dengan kesan yang mendalam, membuat cuilan kisah-kisah ini menjadi menarik dan recommended untuk dibagikan. Jika ada yang mau mengembangkan dan mengikuti modelnya, silahkan saja. 

Berangkat dari sebuah keprihatinan, bahwa orang teknik (mesin) itu cenderung kaku dan asosial. Dunia teknik mesin itu kalau boleh jujur, adalah dunia yang brengsek. Brengsek dalam artian semuanya serba teratur dan membatasi orang untuk kreatif. Dari cara menggambar sampai mengukur saja semua serba diatur. Maka tanpa disadari, dunia teknik mesin seperti menghasilkan “robot-robot kecil”, yang semuanya serba diatur oleh sebuah sistem yang cenderung menghasilkan mahkluk-mahkluk yang kaku dan kurang peduli kepada lingkungannya, karena banyak hal dilakukan secara individual. Apalagi dalam berkegiatan, interaksi mereka lebih banyak dengan benda kerja yang nota bene adalah benda mati. Hal inilah yang menjadi kelemahan (dan tentunya masukan juga) bagi dunia pendidikan teknik, khususnya teknik mesin. 

Padahal di SMK Mikael sendiri berkehendak untuk menjadikan siswa-siswanya menjadi Man for Others. Jika mengacu ke kurikulum yang ada, cita-cita itu bisa saja tercapai, tetapi tidak mudah. Karena dengan segala aturan dan keteraturan, siswa cenderung akan menelan tanpa berpikir kritis. Nah, ini yang berbahaya, karena jika sudah jadi kebiasaan atau habitus, siswa tidak akan mendapatkan makna dari kegiatan belajarnya. Mereka akan mendapatkan pengalaman belajar tetapi tidak mendapatkan maknanya, sehingga mereka tidak tahu untuk tujuan apa mereka belajar. Disinilah bahayanya. Maka perlu ada perlakuan (treatment) yang mau tidak mau membuat siswa mendapatkan pengalaman sekaligus makna, dan hal ini tidak cukup hanya dilakukan berdasarkan kurikulum yang disiapkan pemerintah. Tinggal pilih saja, kalau ikut pemerintah berarti hanya mau jadi ordinary, tapi jika mau jadi extraordinary, ya harus ada yang beda. 

Dari latar belakang dan fenomena tersebut, dibuatlah kegiatan pendampingan siswa untuk siswa kelas XI dengan tujuan untuk memperbaiki kemampuan bersosialisasi siswa. Kalau dilihat namanya, Latihan Kepemimpinan Tingkat Madya), wah ini pemerintah banget. Tetapi untuk isinya, coba dikemas berbeda, dibuat extraordinary dong. Di kelas X mereka sudah pernah mendapatkan LKTD (Latihan Kepemimpinan Tingkat Dasar) yang berfokus pada self leadership, sekarang fokusnya ada di social leadership


Tahun kemarin sudah dicoba LKTM dengan fokus di social leadership, tetapi jujur saja hasilnya masih mengecewakan. Mengirimkan siswa dengan tinggal bersama masyarakat (live in) di desa, ternyata tak banyak yang bisa didapatkan. Seneng sih, bisa tinggal bersama masyarakat desa, tetapi bagi siswa yang berasal dari desa, ini ndak ada bedanya dengan pulang kampung. Begitu juga harapan untuk melibatkan siswa dalam kegiatan bermasyarakat di desa, kecil sekali pengaruhnya. Masyarakat desa di Jawa yang masih lugu, mempunyai kecenderungan untuk melayani tamu sebaik-baiknya. Melayani dalam artian menjadi tuan rumah yang baik. Harapan untuk melibatkan siswa dalam kegiatan masyarakat sehari-hari tidak tercapai. Yang ada malah siswa menjadi lebih nyaman dibandingkan rutinitasnya sehari-hari. 


Akhirnya tahun ini kegiatan LKTM dirombak total konsepnya. Kali ini siswa setengah dipaksa untuk menjadi pengajar di sekolah-sekolah. Diharapkan kegiatan ini lebih baik daripada sekedar “pindah tidur” dari kota ke desa. Dengan menjadi pengajar, mereka sedikit dipaksa untuk bersosialisasi dengan guru dan siswa. Sedangkan untuk soal tempat tinggal, siswa dititipkan bersama keluarga guru-guru yang disinggahi. Dengan tinggal bersama keluarga guru, diharapkan ada komunikasi yang bersifat edukatif. 


Untuk penempatan siswa, SMK Mikael memilih untuk bekerjasama dengan Yayasan Kanisius Cabang Surakarta. Yayasan Kanisius sendiri mungkin merupakan yayasan pendidikan yang tertua di Jawa Tengah. Yayasan ini mengelola sekolah-sekolah dari TK sampai SMA. Untuk Yayasan Kanisius Surakarta, wilayahnya mencakup di eks Karesidenan Surakarta  (Surakarta, Sukoharjo, Klaten, Boyolali, Sragen, Karanganyar, Wonogiri). Dengan berbagai pertimbangan, siswa SMK Mikael akhirnya dikirim untuk mengajar di TK dan SD. Dalam dialog sebenarnya dibatasi untuk SD, hanya di kelas 1 dan 2, karena pada masa-masa itulah pembentukan karakter seseorang benar-benar dibentuk. Di masa-masa inilah ditanamkan hal-hal dasar pada seseorang yang kelak digunakan untuk menjadi bekal hidupnya.


Setelah dipetakan kembali, TK dan SD yang dikelola oleh Yayasan Kanisius Surakarta kemudian dibagi-bagi dalam zona-zona berdasarkan daerah. Untuk Kota Solo ada di daerah Keprabon, Purbayan, Semanggi, Sangkrah, Serengan, Sorogenen, dan Pucangsawit. Untuk daerah Karanganyar ada di Kedawung dan Karangbangun (keduanya ada di Kecamatan Jumapolo, di “pelosok” Karanganyar). Untuk daerah Klaten ada di Delanggu (kampung halaman Dono Warkop), Mlese, Sidowayah, Murukan (Wedi), dan Bayat. Sedangkan untuk daerah Wonogiri, walaupun jumlah sekolahnya paling sedikit, tetapi letaknya menyebar, dari Wonogiri, Baturetno, Watuagung, dan Serenan (Giriwoyo). Untuk teknisnya, siswa yang berasal dari desa atau luar kota Solo akan ditempatkan di kota, sedangkan yang berasal dari kota akan ditempatkan di desa. Diharapkan mereka akan mendapatkan pengalaman baru dari lingkungan yang baru pula.  


Satu hal yang saya lihat. Kanisius sudah melayani warga akan akses pendidikan, selain sejak jaman dulu, tetapi juga mencakup ke masyarakat yang tinggal di pelosok. Untuk saat ini, sekolah-sekolah Kanisius sepertinya menjadi suatu “spesies langka” dan patut dilestarikan. Pada masa jayanya, sekolah Kanisius adalah favorit masyarakat yang membutuhkan akses pendidikan, tanpa memandang bahwa sekolah Kanisius adalah Sekolah Katolik. Masyarakat yang saat itu masih lugu, tidak ragu untuk menyekolahkan anak-anaknya ke Kanisius tanpa rasa kuatir akan di-Kristenisasi. Namun sekarang kondisinya berubah. Dengan menjamurnya sekolah-sekolah negeri dan sekolah-sekolah swasta favorit, Kanisius kehilangan peminat. Belum lagi adanya isu Kristenisasi, membuat Kanisius semakin ditinggalkan masyarakat yang (ngakunya) semakin cerdas ini. 



Dari semua sekolah Kanisius yang akan ditempati siswa Mikael, hanya di Purbayan dan Keprabon saja yang masih diminati oleh masayarakat dari golongan mampu. Selebihnya didominasi oleh siswa-siswa dari golongan marginal, masyarakat yang mungkin mendaftarkan anak-anaknya di Kanisius karena sudah tidak ada pilihan lain, daripada tidak bersekolah. Inilah semangat yang saya lihat pada guru-guru di sekolah-sekolah Kanisius itu. Semangat untuk menjadi martir. Semangat untuk mengorbankan diri, mengorbankan nama besar, untuk melayani anak-anak dari kaum tersisih akan kebutuhan pendidikan. Nah,realitas ini yang harus dilihat dan dipelajari siswa-siswa Mikael. Maka ndak salah kalau mereka dititipkan pada keluarga guru-guru dengan semangat luar biasa ini. 


Tibalah saatnya siswa-siswa ini disebar ke sekolah-sekolah Kanisius. Sampai hari H, Kamis 6 Maret 2014, tidak ada siswa yang tahu akan dikirimkan ke sekolah mana. Semua dilakukan dengan pendekatan pengelolaan emosi. Mereka hanya diberi surat untuk kepala sekolahbeserta alamatnya, dan dibekali dengan uang yang mepet untuk naik angkutan umum dan sekedar makan di perjalanan. Mereka ditantang untuk dapat mencapai tujuan. Tidak ada peta, tidak ada contact person, hanya ada alamat. Dari sini mereka ditantang untuk bersosialisasi, untuk berinteraksi dengan masyarakat langsung dengan bertanya. Model seperti ini dilaksanakan bagi siswa-siswa yang ditempatkan di derah Karanganyar, Wonogiri, dan Klaten (kecuali Delanggu). 

Bagi mereka yang ditempatkan di Delanggu, mereka harus berjalan kaki kurang lebih 15 kilometer, hanya dibekali masing-masing uang Rp. 6.000,- untuk makan siang selama perjalanan. Dilarang naik angkutan umum. Jika air minum mereka habis dilarang beli di warung, harus minta kepada warga sekitar. Dari hal-hal ekstrim ini social leadership ditanamkan. Bagi yang ditugaskan di dalam Kota semua diwajibkan berjalan kaki, menempuh jarak antara 8-12 kilometer melewati beberapa check point di Stadion Manahan, Plaza Sriwedari, dan Gereja Purbayan, sebelum dikirimkan ke sekolah-sekolah. Dengan catatan, perjalanan dilakukan di siang hari dengan panas yang luar biasa menyengat. 

Jumat dan Sabtu, 7 & 8 Maret 2014, siswa-siswa tersebut “dikaryakan” di TK & SD Kanisius yang ditunjuk. Tidak hanya membantu mengajar saat jam regular, mereka juga dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan lain seperti mengisi jam belajar tambahan, memperbaiki alat-alat yang rusak, dll. Intinya SMK Mikael menitipkan siswanya ke TK & SD Kanisius. Untuk teknis kegiatannya, semuanya diserahkan kepada sekolah yang ditempati. Setiap hari pula, ada tim dari SMK Mikael yang mengunjungi siswa-siswa tersebut untuk visitasi. Sebagian siswa tampak senang dan excited, karena mereka belum pernah mengalami pengalaman ini sebelumnya. Ternyata tidak mudah mengajar siswa TK & SD. Hari Jumat saya mendapat tugas mengunjungi siswa di daerah Klaten, dan Sabtunya di daerah Wonogiri. Mengamati siswa mengasuh anak TK, memberikan tambahan (sampai ada yang memberikan pelajaran tambahan menulis huruf Jawa), menginventaris barang-barang sekolah, bermain bola bersama anak-anak, sampai mendampingi siswa belajar drum band.  Sekalian memberikan uang untuk pulang ke Solo yang jumlahnya mepet juga. 







Minggu, 9 Maret 2014, semua peserta kembali ke SMK Mikael, dan acara ditutup dengan misa dan makan bersama. Saat misa, setiap perwakilan diminta menceritakan kesan mereka. Sebagian besar merespon positif kegiatan Mikael Mengajar ini. Rombongan dari Delanggu datang terlambat karena sebenarnya mereka diminta kepala sekolah untuk tidak pulang hari itu. Rombongan dari Jumapolo membawa oleh-oleh rambutan dan durian, Rombongan Purbayan Solo yang walaupun sudah diberi uang transport tetapi memilih untuk berjalan kaki menembus car free day. Dan masih banyak cerita lain yang berkesan bagi mereka. Tetapi kesimpulannya kegiatan ini cukup bermakna dan target social leadership secara umum dapat tercapai. Kedua belah pihak, Kanisius dan Mikael, sama-sama mendapatkan pengalaman baru, sekaligus dapat belajar bersama. Beberapa siswa mengatakan, waktunya kurang lama. Tetapi tak apa lah, daripada jika terlalu lama malah akan menimbulkan rasa jenuh (di samping itu kalau terlalu lama biayanya pasti akan bertambah, hehehe…).


Sebagai penutup tulisan ini, sekaligus refleksi tentang kegiatan “Mikael Mengajar”, berikut ini ada petikan puisi dari Dorothy Law Nolte

Jika anak dibesarkan dengan celaan, dia belajar memaki

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan/kekerasan, dia belajar membenci

Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, dia belajar rendah diri

Jika anak dibesarkan dengan hinaan, dia belajar menyesali diri

Jika anak dibesarkan dengan toleransi, dia belajar menahan diri

Jika anak dibesarkan dengan pujian, dia belajar menghargai

Jika anak dibesarkan dengan dorongan, dia belajar percaya diri

Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, dia belajar keadilan

Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, dia belajar menaruh kepercayaan

Jika anak dibesarkan dengan dukungan, dia belajar menyenangi dirinya

Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, dia pun belajar menemukan cinta dalam kehidupan





1 komentar

Mikael Mengajar, When The Children Smile



Setelah sekian bulan vakum, akhirnya ada  kesempatan untuk nulis-nulis lagi. Tiga bulan vakum nulis dan tidak di-publish, rasanya agak sebel juga. Karena hal yang membuat vakum itu gara-gara laptop rusak dan harus diperbaiki. Banyak kegiatan yang akhirnya tidak terdokumentasikan dalam bentuk tulisan. Mulai dari libur Natal di Madura (tepatnya di daerah warm river alias Kalianget, yg memakan waktu perjalanan 14 jam dari Solo, kesel tenan…), rafting alias arung jeram bersama temen-temen panitia PPM (Piala Persahabatan Mikael) di Sungai Elo Magelang, Erupsi Gunung Kelud yang dashyat di hari Valentine, sampai-sampai derah Jawa Barat yag jaraknya ratusan kilometer pun terkena dampaknya,Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) untuk pengurus OSIS yang baru, dan banyak lagi kisah-kisah lain yang ndak sempat terdokumentasikan dalam tulisan dan di-publish, untuk sekedar dibagikan sebagai bacaan ringan. 

Kali ini tulisan saya masih ndak jauh-jauh dari dunia pendidikan, tepatnya yang baru dialami siswa-siswa kelas XI dari tanggal 6-9 Maret. Berangkat dari sebuah keprihatinan, dan berakhir dengan kesan yang mendalam, membuat cuilan kisah-kisah ini menjadi menarik dan recommended untuk dibagikan. Jika ada yang mau mengembangkan dan mengikuti modelnya, silahkan saja. 

Berangkat dari sebuah keprihatinan, bahwa orang teknik (mesin) itu cenderung kaku dan asosial. Dunia teknik mesin itu kalau boleh jujur, adalah dunia yang brengsek. Brengsek dalam artian semuanya serba teratur dan membatasi orang untuk kreatif. Dari cara menggambar sampai mengukur saja semua serba diatur. Maka tanpa disadari, dunia teknik mesin seperti menghasilkan “robot-robot kecil”, yang semuanya serba diatur oleh sebuah sistem yang cenderung menghasilkan mahkluk-mahkluk yang kaku dan kurang peduli kepada lingkungannya, karena banyak hal dilakukan secara individual. Apalagi dalam berkegiatan, interaksi mereka lebih banyak dengan benda kerja yang nota bene adalah benda mati. Hal inilah yang menjadi kelemahan (dan tentunya masukan juga) bagi dunia pendidikan teknik, khususnya teknik mesin. 

Padahal di SMK Mikael sendiri berkehendak untuk menjadikan siswa-siswanya menjadi Man for Others. Jika mengacu ke kurikulum yang ada, cita-cita itu bisa saja tercapai, tetapi tidak mudah. Karena dengan segala aturan dan keteraturan, siswa cenderung akan menelan tanpa berpikir kritis. Nah, ini yang berbahaya, karena jika sudah jadi kebiasaan atau habitus, siswa tidak akan mendapatkan makna dari kegiatan belajarnya. Mereka akan mendapatkan pengalaman belajar tetapi tidak mendapatkan maknanya, sehingga mereka tidak tahu untuk tujuan apa mereka belajar. Disinilah bahayanya. Maka perlu ada perlakuan (treatment) yang mau tidak mau membuat siswa mendapatkan pengalaman sekaligus makna, dan hal ini tidak cukup hanya dilakukan berdasarkan kurikulum yang disiapkan pemerintah. Tinggal pilih saja, kalau ikut pemerintah berarti hanya mau jadi ordinary, tapi jika mau jadi extraordinary, ya harus ada yang beda. 

Dari latar belakang dan fenomena tersebut, dibuatlah kegiatan pendampingan siswa untuk siswa kelas XI dengan tujuan untuk memperbaiki kemampuan bersosialisasi siswa. Kalau dilihat namanya, Latihan Kepemimpinan Tingkat Madya), wah ini pemerintah banget. Tetapi untuk isinya, coba dikemas berbeda, dibuat extraordinary dong. Di kelas X mereka sudah pernah mendapatkan LKTD (Latihan Kepemimpinan Tingkat Dasar) yang berfokus pada self leadership, sekarang fokusnya ada di social leadership


Tahun kemarin sudah dicoba LKTM dengan fokus di social leadership, tetapi jujur saja hasilnya masih mengecewakan. Mengirimkan siswa dengan tinggal bersama masyarakat (live in) di desa, ternyata tak banyak yang bisa didapatkan. Seneng sih, bisa tinggal bersama masyarakat desa, tetapi bagi siswa yang berasal dari desa, ini ndak ada bedanya dengan pulang kampung. Begitu juga harapan untuk melibatkan siswa dalam kegiatan bermasyarakat di desa, kecil sekali pengaruhnya. Masyarakat desa di Jawa yang masih lugu, mempunyai kecenderungan untuk melayani tamu sebaik-baiknya. Melayani dalam artian menjadi tuan rumah yang baik. Harapan untuk melibatkan siswa dalam kegiatan masyarakat sehari-hari tidak tercapai. Yang ada malah siswa menjadi lebih nyaman dibandingkan rutinitasnya sehari-hari. 


Akhirnya tahun ini kegiatan LKTM dirombak total konsepnya. Kali ini siswa setengah dipaksa untuk menjadi pengajar di sekolah-sekolah. Diharapkan kegiatan ini lebih baik daripada sekedar “pindah tidur” dari kota ke desa. Dengan menjadi pengajar, mereka sedikit dipaksa untuk bersosialisasi dengan guru dan siswa. Sedangkan untuk soal tempat tinggal, siswa dititipkan bersama keluarga guru-guru yang disinggahi. Dengan tinggal bersama keluarga guru, diharapkan ada komunikasi yang bersifat edukatif. 


Untuk penempatan siswa, SMK Mikael memilih untuk bekerjasama dengan Yayasan Kanisius Cabang Surakarta. Yayasan Kanisius sendiri mungkin merupakan yayasan pendidikan yang tertua di Jawa Tengah. Yayasan ini mengelola sekolah-sekolah dari TK sampai SMA. Untuk Yayasan Kanisius Surakarta, wilayahnya mencakup di eks Karesidenan Surakarta  (Surakarta, Sukoharjo, Klaten, Boyolali, Sragen, Karanganyar, Wonogiri). Dengan berbagai pertimbangan, siswa SMK Mikael akhirnya dikirim untuk mengajar di TK dan SD. Dalam dialog sebenarnya dibatasi untuk SD, hanya di kelas 1 dan 2, karena pada masa-masa itulah pembentukan karakter seseorang benar-benar dibentuk. Di masa-masa inilah ditanamkan hal-hal dasar pada seseorang yang kelak digunakan untuk menjadi bekal hidupnya.


Setelah dipetakan kembali, TK dan SD yang dikelola oleh Yayasan Kanisius Surakarta kemudian dibagi-bagi dalam zona-zona berdasarkan daerah. Untuk Kota Solo ada di daerah Keprabon, Purbayan, Semanggi, Sangkrah, Serengan, Sorogenen, dan Pucangsawit. Untuk daerah Karanganyar ada di Kedawung dan Karangbangun (keduanya ada di Kecamatan Jumapolo, di “pelosok” Karanganyar). Untuk daerah Klaten ada di Delanggu (kampung halaman Dono Warkop), Mlese, Sidowayah, Murukan (Wedi), dan Bayat. Sedangkan untuk daerah Wonogiri, walaupun jumlah sekolahnya paling sedikit, tetapi letaknya menyebar, dari Wonogiri, Baturetno, Watuagung, dan Serenan (Giriwoyo). Untuk teknisnya, siswa yang berasal dari desa atau luar kota Solo akan ditempatkan di kota, sedangkan yang berasal dari kota akan ditempatkan di desa. Diharapkan mereka akan mendapatkan pengalaman baru dari lingkungan yang baru pula.  


Satu hal yang saya lihat. Kanisius sudah melayani warga akan akses pendidikan, selain sejak jaman dulu, tetapi juga mencakup ke masyarakat yang tinggal di pelosok. Untuk saat ini, sekolah-sekolah Kanisius sepertinya menjadi suatu “spesies langka” dan patut dilestarikan. Pada masa jayanya, sekolah Kanisius adalah favorit masyarakat yang membutuhkan akses pendidikan, tanpa memandang bahwa sekolah Kanisius adalah Sekolah Katolik. Masyarakat yang saat itu masih lugu, tidak ragu untuk menyekolahkan anak-anaknya ke Kanisius tanpa rasa kuatir akan di-Kristenisasi. Namun sekarang kondisinya berubah. Dengan menjamurnya sekolah-sekolah negeri dan sekolah-sekolah swasta favorit, Kanisius kehilangan peminat. Belum lagi adanya isu Kristenisasi, membuat Kanisius semakin ditinggalkan masyarakat yang (ngakunya) semakin cerdas ini. 



Dari semua sekolah Kanisius yang akan ditempati siswa Mikael, hanya di Purbayan dan Keprabon saja yang masih diminati oleh masayarakat dari golongan mampu. Selebihnya didominasi oleh siswa-siswa dari golongan marginal, masyarakat yang mungkin mendaftarkan anak-anaknya di Kanisius karena sudah tidak ada pilihan lain, daripada tidak bersekolah. Inilah semangat yang saya lihat pada guru-guru di sekolah-sekolah Kanisius itu. Semangat untuk menjadi martir. Semangat untuk mengorbankan diri, mengorbankan nama besar, untuk melayani anak-anak dari kaum tersisih akan kebutuhan pendidikan. Nah,realitas ini yang harus dilihat dan dipelajari siswa-siswa Mikael. Maka ndak salah kalau mereka dititipkan pada keluarga guru-guru dengan semangat luar biasa ini. 


Tibalah saatnya siswa-siswa ini disebar ke sekolah-sekolah Kanisius. Sampai hari H, Kamis 6 Maret 2014, tidak ada siswa yang tahu akan dikirimkan ke sekolah mana. Semua dilakukan dengan pendekatan pengelolaan emosi. Mereka hanya diberi surat untuk kepala sekolahbeserta alamatnya, dan dibekali dengan uang yang mepet untuk naik angkutan umum dan sekedar makan di perjalanan. Mereka ditantang untuk dapat mencapai tujuan. Tidak ada peta, tidak ada contact person, hanya ada alamat. Dari sini mereka ditantang untuk bersosialisasi, untuk berinteraksi dengan masyarakat langsung dengan bertanya. Model seperti ini dilaksanakan bagi siswa-siswa yang ditempatkan di derah Karanganyar, Wonogiri, dan Klaten (kecuali Delanggu). 

Bagi mereka yang ditempatkan di Delanggu, mereka harus berjalan kaki kurang lebih 15 kilometer, hanya dibekali masing-masing uang Rp. 6.000,- untuk makan siang selama perjalanan. Dilarang naik angkutan umum. Jika air minum mereka habis dilarang beli di warung, harus minta kepada warga sekitar. Dari hal-hal ekstrim ini social leadership ditanamkan. Bagi yang ditugaskan di dalam Kota semua diwajibkan berjalan kaki, menempuh jarak antara 8-12 kilometer melewati beberapa check point di Stadion Manahan, Plaza Sriwedari, dan Gereja Purbayan, sebelum dikirimkan ke sekolah-sekolah. Dengan catatan, perjalanan dilakukan di siang hari dengan panas yang luar biasa menyengat. 

Jumat dan Sabtu, 7 & 8 Maret 2014, siswa-siswa tersebut “dikaryakan” di TK & SD Kanisius yang ditunjuk. Tidak hanya membantu mengajar saat jam regular, mereka juga dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan lain seperti mengisi jam belajar tambahan, memperbaiki alat-alat yang rusak, dll. Intinya SMK Mikael menitipkan siswanya ke TK & SD Kanisius. Untuk teknis kegiatannya, semuanya diserahkan kepada sekolah yang ditempati. Setiap hari pula, ada tim dari SMK Mikael yang mengunjungi siswa-siswa tersebut untuk visitasi. Sebagian siswa tampak senang dan excited, karena mereka belum pernah mengalami pengalaman ini sebelumnya. Ternyata tidak mudah mengajar siswa TK & SD. Hari Jumat saya mendapat tugas mengunjungi siswa di daerah Klaten, dan Sabtunya di daerah Wonogiri. Mengamati siswa mengasuh anak TK, memberikan tambahan (sampai ada yang memberikan pelajaran tambahan menulis huruf Jawa), menginventaris barang-barang sekolah, bermain bola bersama anak-anak, sampai mendampingi siswa belajar drum band.  Sekalian memberikan uang untuk pulang ke Solo yang jumlahnya mepet juga. 







Minggu, 9 Maret 2014, semua peserta kembali ke SMK Mikael, dan acara ditutup dengan misa dan makan bersama. Saat misa, setiap perwakilan diminta menceritakan kesan mereka. Sebagian besar merespon positif kegiatan Mikael Mengajar ini. Rombongan dari Delanggu datang terlambat karena sebenarnya mereka diminta kepala sekolah untuk tidak pulang hari itu. Rombongan dari Jumapolo membawa oleh-oleh rambutan dan durian, Rombongan Purbayan Solo yang walaupun sudah diberi uang transport tetapi memilih untuk berjalan kaki menembus car free day. Dan masih banyak cerita lain yang berkesan bagi mereka. Tetapi kesimpulannya kegiatan ini cukup bermakna dan target social leadership secara umum dapat tercapai. Kedua belah pihak, Kanisius dan Mikael, sama-sama mendapatkan pengalaman baru, sekaligus dapat belajar bersama. Beberapa siswa mengatakan, waktunya kurang lama. Tetapi tak apa lah, daripada jika terlalu lama malah akan menimbulkan rasa jenuh (di samping itu kalau terlalu lama biayanya pasti akan bertambah, hehehe…).


Sebagai penutup tulisan ini, sekaligus refleksi tentang kegiatan “Mikael Mengajar”, berikut ini ada petikan puisi dari Dorothy Law Nolte

Jika anak dibesarkan dengan celaan, dia belajar memaki

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan/kekerasan, dia belajar membenci

Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, dia belajar rendah diri

Jika anak dibesarkan dengan hinaan, dia belajar menyesali diri

Jika anak dibesarkan dengan toleransi, dia belajar menahan diri

Jika anak dibesarkan dengan pujian, dia belajar menghargai

Jika anak dibesarkan dengan dorongan, dia belajar percaya diri

Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, dia belajar keadilan

Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, dia belajar menaruh kepercayaan

Jika anak dibesarkan dengan dukungan, dia belajar menyenangi dirinya

Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, dia pun belajar menemukan cinta dalam kehidupan




1 komentar

Perjalanan Panjang Buku Pedoman Siswa


Sebut saja Buku Pedoman Siswa. Setiap siswa SMK Mikael pasti mengenal buku ini. Buku ini merupakan pegangan setiap siswa dalam menjalankan berbagai aktivitas di sekolah. Layaknya sebuah masyarakat, SMK Mikael pun memerlukan berbagai macam kesepakatan untuk mengatur kehidupan bersama. Nah, berbagai kesepakatan dalam mewujudnyatakan kehidupan yang baik di SMK Mikael itulah yang dituangkan dalam buku ini. Sejak semula, buku ini diberi nama Buku Pedoman Siswa. Sampai sekarang pun, namanya tetap sama. Buku itulah yang ingin kita bicarakan kali ini.
Sejauh dapat didokumentasikan, Buku Pedoman Siswa ini sudah cukup lama ada di SMK Mikael. Buku pertama yang sempat terdokumentasikan berangka tahun 1996. Jadi, buku itu sudah berulang tahun ke 17 tahun pada tahun ini. Di tahun-tahun itu, Buku Pedoman Siswa masih berupa buku dengan metode cetak sederhana sesuai dengan gaya zamannya. Dalam buku itu, sudah terdapat seluruh pembahasan yang kemudian dipertahankan dari tahun ke tahun. Dapat dikatakan, buku itu merupakan babon bagi buku-buku pedoman siswa yang diterbitkan di tahun-tahun kemudian.  Seluruh pembahasan peraturan dikembangkan dari buku yang sederhana itu.
Buku Pedoman Siswa SMK Mikael dari tahun ke tahun semakin baik. Ada berbagai macam perbaikan yang dapat ditelusur.
Pada terbitan tahun 1996, buku itu memuat aturan-aturan main bagi siswa di sekolah. Yang menarik dalam buku itu adalah penjelasan mengenai Peranan Orang Tua / Wali Siswa. Ini menarik karena mungkin tidak banyak sekolah menyadari dan menyatakan secara jelas bahwa orangtua adalah pendidik pertama dan utama bagi anak-anak. Sekolah merupakan partner dari orangtua untuk mendidik dan mengembangkan kehidupan anak-anak. Dalam buku itu, sudah dinyatakan, “Sekolah tidak pernah dapat menggantikan peranan orangtua/wali siswa di rumah. Suatu kerjasama yang baik antara orangtua/wali dengan sekolah sangat penting untuk dapat memberikan hassil terbak bagi perkembangan pribadi serta usaha belajar para siswa.” Dari teks ini tampak bahwa sejak awal SMK Mikael ingin bekerjasama dengan orangtua untuk mendidik anak-anak sehingga dapat berhasil dengan baik.
Dalam buku terbitan tahun 2003, dikenalkan sebuah hal baru, yaitu Penilaian Kepribadian Siswa. Penilaian kepribadian ini merupakan cara membentuk kepribadian di luar bidang akademis. Banyak hal yang mempengaruhi nilai kepribadian ini. Yang unik, ada sebuah catatan bahwa pendekatan yang dipakai adalah “pendekatan yang diusahakan seobyektif mungkin.” Catatan ini merupakan catatan yang cukup penting agar nilai kepribadian tidak jatuh pada urusan suka dan tidak suka atau dekat dan tidak dekat. Cara penilaian ini diharapkan semakin mampu membentuk anak-anak Mikael sebagai pribadi yang utuh.
Pada terbitan tahun 2006, ada hal baru pula yang dikenalkan, yaitu Pendampingan Siswa. Bagian Pendampingan Siswa bicara mengenai proses pendampingan siswa yang dilaksanakan di SMK Mikael. Dalam buku itu dinyatakan bahwa pendampingan siswa “bertujuan agar para mitra didik SMK Mikael menjadi manusia-manusia yang berkepribadian utuh sehingga masing-masing pribadi dapat berkembang sesuai dengan minat dan bakat yang dimiliki.” Dengan ini, sekolah ingin memberikan informasi kepada para siswa sekaligus orangtua bagaimana cara sekolah  mendampingi siswa dalam proses belajar mengajar di sekolah.
Perubahan yang agak total dilakukan pada buku terbitan tahun 2009. Secara umum, susunan buku itu sama dengan buku-buku sebelumnya. Yang membedakan hanyalah penataan aturan-aturan dan berbagai kebijakan semakin dikelompok-kelompokkan. Yang baru dari buku itu adalah Pernyataan Persetujuan dan Alur Pelaksanaan. Pernyataan Persetujuan adalah lembar yang ditandatangani oleh orangtua dan siswa sebagai bentuk pernyataan bahwa mereka telah memahami dan menyetujui hal-hal yang tertulis dalam Buku Pedoman Siswa. Pernyataan ini setelah ditandatangani diserahkan kepada sekolah untuk dapat ditindaklanjuti. Pernyataan persetujuan ini sebenarnya ingin mengajak siswa dan orangtua untuk bersama-sama menghayati cara hidup sebagai anggota keluarga SMK Mikael. Dengan demikian, diharapkan semuanya itu dapat dilaksanakan dengan baik. Sementara itu, Alur Pelaksanaan bicara mengenai bagaimana kebijakan-kebijakan sekolah dilaksanakan. Dengan demikian, siswa dan orangtua bisa mengerti bagaimana alur dan prosedur yang harus ditempuh kalau akan mengurus sesuatu di sekolah.
Akhirnya, ada buku baru terbitan tahun 2013. Di buku ini, yang baru adalah dimasukkannya nilai-nilai yang menjadi inti kehidupan di SMK Mikael. Nilai-nilai inti ini didasarkan pada keutamaan semangat orang-orang kudus yang ingin diteladan, yaitu Malaikat Agung Mikael dan Santo Ignatius Loyola. Keutamaan-keutamaan mereka merupakan dasar dan teladan bagi pembentukan karaktek siswa di SMK Mikael. Berdasarkan keutamaan itu, ditekankan pula standar minimal yang harus diperjuangkan dalam pembangunan karakter di SMK Mikael. Untuk semua tingkat, level III merupakan prasyarat yang harus dipenuhi dan diharapkan mampu dilaksanakan demi pembinaan karakter yang baik.
Inilah perjalanan panjang yang sudah ditempuh oleh Buku Pedoman Siswa. Dari sini, kita bisa tahu bahwa segala sesuatu yang ada dalam buku itu berproses. Prosesnya pasti menuju kepada kebaikan. Agar bisa berhasil baik, manfaatkan dan pedomani Buku Pedoman Siswa dengan baik. Setiap permainan membutuhkan aturan main. Manusia adalah homo ludens – manusia yang bermain. Meskipun demikian, manusia diingatkan oleh Driyarkara, “Bermainlah dalam permainan, tapi jangan main-main!” Mari bermain, tetapi jangan main-main dengan aturan main.

3 komentar

Kaum Minoritas yang Berkarakter (Catatan Kecil Panitia Brutal)




Sebuah lagu yang indah, tersusun dari nada-nada yang berbeda...
Disatukan oleh birama, tempo, dinamika, dan yang lainnya...
Di tangan orang yang salah, semuanya akan berantakan...
Namun di tangan orang yang paham, akan menjadi sebuah harmonisasi yang mengesankan....

Catatan saya diatas menganalogikan pengalaman saya beberapa hari kemarin. Belakangan ini konsep tentang pendidikan karakter sedang ramai dibicarakan di dunia pendidikan Indonesia. Mulai dari kurikulum 2013 yang (katanya) menitikberatkan pada pendidikan karakter, ahklak mulia, semangat anti korupsi, sampai akhirnya sekolah-sekolah mencoba “jualan” dengan mempromosikan pendidikan karakter sebagai “komoditas” mereka. 

Pendidikan karakter. Sebuah konsep yang menurut saya cukup bagus. Bahkan di fakultas tempat saya kuliah dulu juga mempunyai tagline “berkarakter kuat dan cerdas”. Mengingat carut-marutnya kondisi di Indonesia sekarang ini, pendidikan karakter sepertinya menjadi suatu solusi untuk mengatasi kebrobokan yang ada selama ini. Harapannya, generasi-generasi kita mendatang tidak akan mengalami jaman ketika banyak poster atau stiker bergambar mantan presiden Suharto dengan tulisan “Piye bro kabare? Isih penak jamanku to?”. Sebuah tulisan khas orang putus asa dan tak punya pengharapan akan masa depan yang cerah, hingga menawarkan untuk kembali ke masa lalu. 



Namun sekali lagi, pendidikan karakter itu bisa berhasil oleh dukungan banyak faktor. Faktor pemerintah saja belum cukup. Walaupun perangkat dan instrumennya sama, di tangan orang-orang yang berbeda, hasilnya pasti juga berbeda. Seperti acara pencarian bakat favorit saya, Master Chef, walaupun bahan-bahan dan resepnya sama, tetapi di tangan orang yang berbeda-beda, rasanya juga berbeda. Dan ternyata, faktor yang paling dominan justru bukanlah kelengkapan instrumen, tetapi semangat alias passion-nya, yang membuat sebuah konsep bisa berhasil atau gagal. 

Begitu pula yang saya alami beberapa hari kemarin, ketika saya “dipaksa” alias “dipercaya” untuk ngurusi Masa Orientasi Siswa di SMK Mikael Surakarta. Murid-murid baru datang dari berbagai macam latar belakang. Datang dengan berbagai perbedaan dan kebiasaan. Tidak semua kebiasaan tersebut dapat diterima di Mikael. 

Seperti analogi di awal tulisan saya, mereka bagaikan nada-nada yang berbeda, yang harus digarap menjadi sebuah lagu yang indah. Birama, tempo dan dinamikanya sudah jelas, sudah ditentukan. Tantangannya adalah membuat nada-nada tersebut menjadi sebuah harmoni yang bisa diterima banyak orang, karena di tangan orang yang salah semuanya pasti akan berantakan. 

Secara kebetulan, di tahun ini dalam sasaran mutu sekolah sudah ditetapkan sebelum MOS dimulai. Salah satunya adalah membangun sistem pendidikan yang unggul dan berbasis reflektif. Maka, mengacu dari situ, semua kegiatan siswa harus mengacu pada asas “berbasis reflektif” tadi.

Pengalaman ngurusi MOS ini bagi saya adalah pengalaman yang kedua. Tahun kemarin juga sudah pernah ikut terlibat, jadi ya tidak begitu kaget lah. Secara konsep masih copy paste tahun kemarin, dengan beberapa perbaikan sesuai dengan salah satu klausul dalam sistem ISO, continous improvement alias perbaikan berkelanjutan. Yang sudah baik dilanjutkan dan yang kurang baik diperbaiki. 

Karena harus menyampaikan pengarahan dan wawasan kepada siswa baru ini, metode yang dipilih adalah metode yang keras, tegas, dan (cenderung) brutal. Sebagai siswa STM Mesin, para siswa baru ini nantinya pasti akan mengalami praktek pemesinan. Nah, disini kedisiplinan menjadi kunci. Tidak ada toleransi untuk berbagai bentuk kecerobohan, karena akan berakibat fatal seperti produk gagal atau ekstremnya lagi bisa berakibat kecelakaan kerja. 

Berhubung siswa baru ini masih bocah ingusan yang baru saja lulus SMP, jika langsung dijelaskan dan diberi pengarahan tentang proses pemesinan rasanya pasti terlalu tinggi. Maka harus disimulasikan sekaligus diintegrasikan dalam kegiatan MOS. Kata kuncinya ada di disiplin (yang secara sederhana dimaknai sebagai taat pada aturan). Siapa yang tidak taat aturan (walaupun pintar), akan berpotensi lebih besar untuk gagal. 

Mengacu ke sistem pendidikan yang unggul dan berbasis reflektif, siswa baru ini harus diberikan pengalaman yang nyata, bukan sekedar mendengarkan, baca buku, ceramah, atau diskusi. Dengan pengalaman yang nyata, baik pengalaman berhasil ataupun gagal, mereka akan menemukan makna. Mereka akan menemukan sesuatu yang berarti. Dan dari pengalaman-pengalaman tersebut akan mempengaruhi cara mereka berpikir, berucap, dan bertindak selanjutnya. Pengalaman-pengalaman yang biasa pasti akan gampang dilupakan. Tetapi pengalaman-pengalaman yang tidak biasa, pasti susah dilupakan. Tantangannya disini, memberikan pengalaman-pengalaman yang luar biasa pada mereka. Dan SMK Mikael memilih cara yang ekstrem, cara yang brutal dalam MOS, salah satunya untuk memberikan pengalaman yang luar biasa ini.

Hari pertama MOS, banyak masalah yang timbul (seperti yang sudah diprediksikan). Acara start jam 5 pagi. Dari jumlah keterlambatan, masih parah. Sebanyak 34 orang dari 159 peserta datang terlambat. Padahal di Mikael, terlambat datang berarti awal kegagalan. Mereka yang terlambat artinya tidak siap bekerja. Untuk memberikan pengalaman pada mereka, siswa-siswa yang terlambat ini tidak akan dapat tempat duduk. Artinya mereka harus jongkok seharian, dari pagi sampai sore. Harapannya, besok mereka tidak datang terlambat lagi. Sebuah pengalaman baru bagi mereka bahwa jika mereka terlambat akibatnya fatal. 

Itu baru dari keterlambatan, masih banyak masalah selain keterlambatan. Seiring berkembangnnya teknologi, membuat orang jadi lebih malas, lebih suka sesuatu yang instan, sampai membuat orang menjadi pengecut. Inilah penyakit anak-anak jaman sekarang. Manja, tidak mau berjuang alias rekasa, terlalu bergantung pada orang tua, sampai menjadi banci-banci dunia maya karena beraninya hanya misuh-misuh di dunia maya daripada di hadapan orang yang dibencinya. 



Ini juga yang terjadi di MOS hari pertama. Banyak siswa yang malas menyiapkan bekal untuk dirinya sendiri (yang sebenarnya dibuat rumit, untuk menantang mereka sekaligus melihat unjuk kerja mereka). Lebih banyak yang memilih memesan & membayar di warung-warung depan (yang melihat hal ini sebagai kesempatan untuk mengeruk keuntungan). Kami harus tegas, kami bermaksud untuk melatih mereka untuk kerja keras, bukan manja-manjaan. Jadi bagi yang ketahuan pesan di warung makanannya kami sita. Hari ini masih diampuni, bagi mereka yang ketahuan saat makan disendirikan, mereka makan bareng-bareng di dekat tempat sampah. Disertai dengan ultimatum, jika besok diulangi lagi, merek tidak usah makan saja besok. Setelah kotak makanan yang disita ini dibuka, barulah mereka merasa ditipu, karena dengan uang 100 ribu apa yang mereka dapatkan tidak sebanding. Padahal panitia sudah memperhitungkan, biaya untuk makan 1 hari maksimal 30 ribu. 

Begitu juga dengan ketidaksesuaian pada celana seragam sampai rambut, semuanya ditindak tegas. Potong di tempat, tidak ada toleransi. Begitu juga bagi mereka yang ketahuan misuh-misuh di dunia maya. Panitia juga tidak gaptek. Jadi bukan hal yang susah untuk melacak siapa saja yang misuh-misuh di dunia maya. Bagi kami, mereka ini pengecut. Belum pernah menjalani kegiatan kok sudah berkomentar yang negatif, sudah pesimis dulu. Kalau anda sudah pernah mencoba anda boleh berkomentar, tetapi jika belum mencoba, anda tidak berhak untuk berkomentar. Jadi mereka harus ditindak. Dibentak-bentak sudah pasti . Namun kali ini panitia juga melegalkan kontak fisik sejauh tidak berpotensi mencederai siswa baru. Sebatas menginjak kaki, mencengkeram kerah baju, dan menendang kaki atau pantat saja (itupun tidak boleh dengan emosi atau sekuat tenaga). Jadilah para pengecut ini bulan-bulanan panitia. Agar mereka sadar, bahwa ucapan di dunia maya ternyata bisa berakibat fatal di dunia nyata.

Tetapi walaupun brutal, MOS juga harus diisi dengan kegiatan-kegiatan yang humanis. Untuk menunjukkan pada siswa baru bahwa orang tua menjadi salah satu kunci mengapa mereka bisa berada di sini, mereka harus membawa foto keluarga. Pesannya sederhana, buatlah orang tua dan keluarga mereka bangga. 



Namun ketika selesai MOS hari pertama, saya justru banyak mendapat komplain dari orang tua yang tidak terima jika celana dan rambut anak-anaknya dipotong asal oleh panitia. Salah satu orang tua yang kebetulan berprofesi sebagai dosen mengakatan bahwa ini keterlaluan, terlalu barbar untuk sebuah lembaga pendidikan. Saya hanya katakan, acara MOS belum selesai. Jadi kalau mau komplain silahkan, tetapi tetap tidak akan saya respons. Karena saya dipercaya untuk ngurusi acara ini dari awal sampai akhir. Dan tidak akan saya biarkan orang lain mengacau rencana yang sudah disusun. Saya tahu ini lembaga pendidikan, justru disinilah panitia ingin mewujudnyatakan konsep pendidikan karakter itu lewat pengalaman nyata, bukan sekedar baca buku atau ceramah saja. Kalau mau pendidikan yang biasa-biasa saja, yang hanya diajari untuk baca buku atau dengar ceramah saja, silahkan cari sekolah lain, disini bukan tempatnya. (tetapi yang terjadi keesokan harinya bapak dosen tersebut menyalami saya sambil pamitan mau balik ke Jakarta. Saya tidak mendengar ucapan maaf darinya, tetapi saya bisa melihat dan merasakan bahwa pak dosen ini sudah menemukan pengalamannya, hehehe...)

Hari kedua semua sudah berjalan semakin baik. Dari 34 siswa yang terlambat, jumlahnya berkurang drastis menjadi 4 orang saja. Sudah lumayan baik to. Jadi jangan hanya melihat dari kasus potong celana dan rambut saja, tapi juga lihatlah perubahan pola pikir anak-anak ingusan ini. Kalau saya ingat saat kuliah dulu (jelek-jelek begini saya juga pernah kuliah...), tujuan pendidikan Indonesia adalah menciptakan manusia seutuhnya alias insan kamil. Manusia seutuhnya itu bukanlah manusia yang sempurna, yang isinya hanya yang baik-baik saja, tetapi manusia yang komplit dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Jadi sekali lagi jangan lihat kasus potong celana dan rambut saja. Karena masih mending yang dipotong celananya, coba saja kalau yang dipotong leher atau burungnya, kan malah bisa berabe, heheheheh. 

Di hari kedua ini juga ada ujian mental. Kebetulan ada 2 peserta yang saat itu berulang tahun. Oleh panitia dikerjai habis-habisan. Saat kegiatan outdoor, di tas mereka diselipkan sejumlah uang, dan di-skenario ada yang mengaku kehilangan uangnya. Skenarionya, 2 orang ini dituduh menjadi pencurinya. Konsekuensinya, mereka harus dikeluarkan dari sekolah alias di-Drop Out.  Sebuah skenario yang berhasil, cukup dramatis, dan berkesan sampai ada yang menangis karena membayangkan tragis sekali nasib mereka, baru diterima sudah di-DO. Dan beruntunglah 2 orang itu, karena mereka mendapatkan sebuah hadiah ulang tahun yang tak terlupakan, bukan dalam bentuk barang, tapi dalam bentuk pengalaman  heheheheh.... 

Di hari yang ketiga, yang terlambat hanya 1 orang. Sebuah prestasi patut diapresiasi. Hari ketiga ini merupakan hari terakhir MOS, dimana fokusnya ada di team work. Melatih mereka untuk percaya pada rekan-rekannya. Kedisiplinan tanpa kepercayaan sama saja omong kosong. Maka di penghujung hari terakhir tantangannya adalah berjalan beriringan dengan mata tertutup, melewati berbagai rintangan, menuju sebuah titik dimana titik tersebut adalah tempat api unggun dinyalakan dan tempat penutupan MOS.
Tiga hari yang berkesan bagi panitia maupun peserta. Walaupun jumlah mereka hanyalah minoritas dibandingkan jumlah siswa SMK di Indonesia, tetapi sekarang mereka menjadi kaum minoritas yang berkarakter. Kaum minoritas yang mau belajar. Karena pada prinsipnya belajar adalah proses mengubah perilaku dari kurang baik menjadi lebih baik. And they did it.



Guru adalah orang yang merelakan diri menjadi jembatan bagi murid-muridnya...
Dan setelah murid-muridnya melewatinya, mereka akan jatuh dan hancur dengan sukacita...
Sekaligus mendorong murid-murid untuk membangun jembatan bagi dirinya masing-masing...
(Nikos Kazantakis)